You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Wajibnya Mencari Guru Mursyid

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Wajibnya Mencari Guru Mursyid

Orang yang telah melihat kondisi jiwa dan mengetahui apa yang diinginkan Allah dari setiap insan, maka iapun wajib mencari seorang syaikh mursyid. Pengarang Mursyidul Mu’ayyan menuturkan:

يَصْحَبُ شَيْخًا عَارِفُ الْمَسَالِكِ # يَقِيهِ فِي طَرِيقِهِ الْمَهَالِكِ

يُذَكِّرُهُ اللَّهَ إِذَا رَأَهُ # وَيُوَصِّلَ الْعَبْدَ إِلَى مَوْلَاهُ

“Hendaknya ia senantiasa ber-shuhbah pada seorang syaikh yang mengetahui ragam jalan (menuju Allah) # niscaya itu bisa menjaganya dari jalan yang membinasakan

Yang senantiasa mengingatkan akan Allah kala melihat beliau # dan beliaupun mampu me-wushul-kan seorang hamba pada Tuannya (Allah).”

Al ‘Allamah Badruddin Mayyarah pernah mengatakan dalam ad-Durruts-Tsamîn: Terkait dengan ber-suhbah pada seorang syaikh yang mengetahui ragam jalan (menuju Allah); al Masalik merupakan kata plural dari kata maslak (titian jalan); maksudnya jalan yang mampu menghantarkan ke-hadhrah Allah Swt, yang senantisa mampu menjaga pejalannya dari ragam kehancuran, iapun senantiasa bisa mengingat Allah kala melihat syaikh tersebut bahkan mampu membuatnya wushul kepada Allah Swt.

Syaikh al Imam sayyidi Abu Abdillah bin Muhammad bin ‘Abbad, ketika beliau memberikan syarah terhadap perkataan Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari; “Jika bukan lantaran luasnya medan jiwa, maka tidak akan terwujud jalannya para pesuluk (menuju Allah);” beliau berkata: Sudah menjadi keharusan bagi murid thariqah ini agar men-suhbahi syaikh muhaqqiq mursyid yang telah berhasil menggembleng jiwa dan menyelamatkan diri dari hawa, hendaknya sang murid menyerahkan jiwa kepadanya, malazimkan ketaatan diri kepadanya dan mempercayai ragam petunjuknya tanpa merasa puas, tidak pula menakwilkannya dan tidak pula ada keraguan. Para sufi mengatakan, “Orang yang belum memiliki syaikh (guru), maka syaithan adalah gurunya.”

Abu Ya’la ats-Tsaqafi Ra juga pernah berkata: Jika saja ada seseorang yang mengumpulkan semua ilmu dan men-suhbahi ragam kelompok manusia, iapun tidak dapat sampai pada maqam rijal kecuali dengan riyadhah dari syaikh, atau imam atau muaddib yang senantisa memberinya nasehat. Orang yang tidak mengambil adab dari perintah yang diperintahkan padanya atau juga dari larangan yang diperintahkan padanya untuk menjauhinya, niscaya Allah akan memperlihatkan ragam aib amal perbuatannya, begitu juga dengan rongrongan jiwa yang tidak boleh dia ikuti dalam memperbaiki ragam maqamat yang ada.

Sayyidi Abu Madyan Ra pernah berkata: Orang yang belum bisa mengambil adab dari orang yang menggemblengnya adab, niscaya ia akan merusak orang lain yang mengikuti orang yang menggemblengnya tadi.

Dalam Latha ‘iful Minan disebutkan: Sungguh sepatutnya engkau mengikuti seorang wali yang menunjukkanmu kepada Allah Swt, yang mampu memunculkan padamu apa yang Allah berikan padanya dari kekhususan, sehingga engkau tidak lagi melihat sisi kemanusiaan beliau lantaran adanya kekhususan yang Allah berikan pada beliau. Lalu engkaupun mengikatkan diri pada beliau, maka beliaupun bersuluk denganmu pada jalan Allah Ar-Rasyad. Beliau akan memberitahukanmu ragam rongrongan jiwamu yang tersembunyi maupun yang nampak. Beliaupun akan memprosesmu untuk bisa berkumpul dengan Allah Swt, beliau akan mengajarkanmu bagaimana berlari dari selain Allah dan beliaupun akan memperjalankamu pada jalanmu hingga engkau wushul pada Allah Swt. Beliaupun akan membuatmu berhenti untuk tidak menilai buruk jiwamu dan memperkenalkan padamu jika Allah itu baik padamu. Beliaupun akan memberitahumu tentang keburukan jiwa dan cara berlari darinya serta tidak tunduk padanya. Beliaupun akan memberitahumu sisi ihsan Allah padamu, yang engkau terima dan engkau gunakan dengan bersyukur pada-Nya. Membiasakanmu senantiasa berada di sisi-Nya setiap waktu.

Andai engkau katakan, dimanakah orang yang memiliki sifat ini, engkau telah tunjukkan padaku perkara yang lebih aneh dari gugusan bintang yang terasingkan? Ketahuilah, sungguh wijdan orang-orang yang menunjukimu itu tidaklah lemah, akan tetapi yang lemah adalah adanya kejujuran jiwamu dalam mencari mereka. Bersungguh-sungguhlah mencarinya, niscaya engkau akan temukan seorang mursyid. Engkaupun akan temukan itu dalam firman Allah Swt,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ الْاَ رْضِ ۗ ءَاِلٰـهٌ مَّعَ اللّٰهِ ۗ قَلِيْلًا مَّا تَذَكَّرُوْنَ 
am may yujiibul-mudhthorro izaa da’aahu wa yaksyifus-suuu-a wa yaj’alukum khulafaaa-al-ardh, a ilaahum ma’alloh, qoliilam maa tazakkaruun

“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di Bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.”
(QS. An-Naml 27: Ayat 62)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

طَا عَةٌ وَّقَوْلٌ مَّعْرُوْفٌ ۗ فَاِ ذَا عَزَمَ الْاَ مْرُ ۗ فَلَوْ صَدَقُوا اللّٰهَ لَـكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ 
thoo’atuw wa qoulum ma’ruuf, fa izaa ‘azamal-amr, falau shodaqulloha lakaana khoirol lahum

“(Yang lebih baik bagi mereka adalah) taat (kepada Allah) dan bertutur kata yang baik. Sebab apabila perintah (perang) ditetapkan (mereka tidak menyukainya). Padahal jika mereka benar-benar (beriman) kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.”
(QS. Muhammad 47: Ayat 21)

Jika engkau terpaksa mencari siapa yang bisa me wushulkanmu kepada Allah Swt, layaknya orang haus yang membutuhkan air; orang takut yang membutuhkan sisi aman, niscaya engkau temui itu lebih dekat dari yang kau cari. Jikalau engkau merasa terpaksa untuk berjalan menemui Allah layaknya seorang ibu yang mengkhawatir kan sang anak ketika hilang, niscaya engkau akan temui Allah lebih dekat denganmu dan Dia menjawabmu; engkau pun akan dapati wushul pada-Nya tanpa adanya halangan; maka ber-tawajjuh-lah pada-Nya agar Allah mempermudah itu bagimu.”

Pernyataan beliau diatas mengingatkan kita, bahwa syaikh merupakan bagian dari pemberian Allah dan juga hidayah-Nya bagi seorang hamba yang juga murid, ketika keinginannya benar dan usahanya untuk mendapatkan syaikh sudah maksimal. Ini tidaklah seperti yang diduga orang yang tidak punya ilmu mengenai itu. Ketika itulah Allah akan senantiasa memberinya taufik untuk menggunakan adab kepada beliau, ketika beliau memberikan petunjuk padanya untuk menuju martabat dan menggapai derajat yang tinggi.

Sayyidi Abu Madyan Ra pernah berkata: Seorang syaikh adalah sosok yang dirimu bisa menyaksikan keutamaan yang beliau miliki dan jiwamu menyaksikan dengan cara mengagungkannya. Syaikh adalah sosok yang menggemblengmu dengan akhlaknya, mengajar-kanmu adab dengan tongkatnya, menerangi batinmu dengan sinarnya. Syaikh adalah sosok mengumpulkanmu ketika beliau ada dan menjagamu ketika beliau tidak ada.”

Dalam Latha `if al Minan disebutkan: Syaikhmu bukanlah sosok yang engkau dengar (ceramah) darinya, akan tetapi syaikhmu adalah sosok yang menjadi tempatmu mengambil (hikmah dan akhlak). Syaikhmu bukanlah sosok yang membimbingmu dengan ragam ibarah-nya akan tetapi syaikhmu adalah sosok yang ragam isyaratnya mampu mengalir dalam sirr-mu. Syaikhmu bukanlah sosok yang memanggilmu ke depan pintu, akan tetapi syaikhmu adalah sosok yang mengangkat hijab antara dirimu dan dirinya. Syaikhmu bukanlah sosok yang membimbingmu dengan perkataannya, akan tetapi syaikhmu adalah sosok yang mampu membangkitkan ahwalmu. Syaikhmu adalah sosok yang mengeluarkanmu dari tawanan hawa dan memasukkanmu ke hadhrah Allah. Syaikhmu adalah sosok yang senantiasa mampu menjernihkan gambaran kalbumu, hingga ragam cahaya Allah mampu ber-tajalli di dalam kalbumu. Beliau membangkitkanmu untuk menuju Allah, sehingga itu membuatmu bangkit kepada-Nya, beliau akan berjalan denganmu hingga engkau bisa wushul di hadapan-Nya dan mendorongmu untuk selalu dalam cahaya hadhrah Allah, seraya berkata, “Inilah, kini engkau sudah bersama Rabbmu.”

Sumber : BUKU FAIDHAH TIJANI (KASYIFUL ILBAS ‘AN FAIDHATI AL KHATMI ABIL ABBAS) SYAIKH IBRAHIM NIASS AL KULKHI AT-TIJANY