You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Tujuan Penulisan Kitab; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Tujuan Penulisan Kitab; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

Karena saya mengarang kitab tentang kerohanian dan menuliskannya untuk tujuan ketuhanan maka saya beri judul: Al-Tadbirat al-Ilahiyah fi Ishlah al-Mamlakah al-Insaniyah (Bimbingan Tuhan dalam Memperbaiki Kerajaan Manusia). Dalam kitab ini, saya membahas status manusia sebagai alam kecil, mikrokosmos (alam shaghir), derivasi dari alam besar, makrokosmos (‘alam kabir). Semua yang tampak pada dan di dalam makrokosmos ini dapat ditemukan pula di dalam mikrokosmos (manusia). Di sepanjang lembaran-lembaran kitab ini, saya tidak bermaksud mengatakan manusia sama persis dengan alam semesta. Namun, kesamaan itu terletak pada sisi tugasnya sebagai khalifah dan sistem kehidupan (al-tadbir).

Dalam kitab ini, saya menjelaskan siapa yang berperan sebagai sekretaris, menteri, hakim yang adil, para pejabat yang mengatur urusan sedekah, migrasi, dan faktor-faktor yang melatarbelakangi terjadinya peperangan antara akal dan hawa nafsu.

Kemudian, dalam kitab ini juga, saya menerangkan bagaimana cara menghadapi musuh-musuh, kapan waktu yang tepat untuk berperang. cara mendapatkan pertolongan, hingga kedudukan manusia sebagai jenderal yang memimpin jalannya perang. Saya akan membangun kerajaan-kerajaan, sebagian berupa kerajaan yang makmur sejahtera, dan sebagian lagi kerajaan yang hancur binasa.

Lengkap sudah tujuan utama kitab ini. Orang yang hatinya dijangkiti penyakit bisa segera sembuh. Sejak semula, saya memiliki niatan untuk sekali waktu memberikan uraian sejelas-jelasnya, dan di lain kesempatan saya sengaja membuat uraian yang samar-samar. Dalam karangan yang membicarakan aspek kemanusiaan manusia sekaligus aspek rohaniyahnya ini, di manakah posisi/keterangan tentang Imam al-Mahdi, yang selalu dinisbatkan pada keluarga nabi, baik secara maqam spiritual maupun genetis? Serta bagaimana maqam Khatmil Auliya dan Thabi’ul ash-Fiya? Sebab, mengetahui maqam-maqam tersebut jauh lebih penting dibanding segala yang ada dalam kehidupan fana ini.

Akan tetapi, saya merasa khawatir atas perbuatan buruk musuh bebuyutan; setan, yang selalu berkoar-koar di harapan ‘raja’ dan melontarkan tuduhan keji. Padahal, yang ia tuduhkan bukan niatan saya, bukan pula perbuatan saya. Karena itulah, saya sengaja merahasiakan beberapa hal guna menyelamatkan diri sendiri dari tuduhan tersebut. Kemudian, saya melihat semua rahasia yang Allah titipkan, saya pasrahkan kembali kepada-Nya, biarlah Allah sendiri yang memperlihatkan kebenaran rahasia-rahasia-Nya.

Kitab ini saya dedikasikan untuk menjelaskan kedua maqam tersebut. Ketika saya bicara tentangnya, maka yang saya maksudkan adalah dua alam itu. Tujuannya memberi kejelasan lebih lanjut. Saya akan menggunakan istilah makrokosmos yang mudah dipahami dan dimengerti, kemudian saya menjelaskan rahasianya yang terdapat dalam manusia, dimana rahasia itu kerap dipungkiri dan disalahartikan. Bukan tujuan saya dalam keseluruhan pembahasan karya ini-menjelaskan semua yang tampak di jagad raya. Tujuan utama dan terpenting saya hanya terbatas pada apa yang terdapat dalam diri manusia; makhluk keturunan Adam.

Gunakanlah akalmu sebaik mungkin, wahai orang yang berakal! Merenunglah dan ingat-ingatlah, engkau, wahai orang pelupa! Apakah ada seorang raja yang adil, kejam, atau alim, kelak di akhirat bisa berpengaruh pada saya? Demi Allah, tidak mungkin ada, wahai saudaraku! Sampai saya betul-betul melihat raja itu berasal dari diri saya sendiri dan untuk saya sendiri, atau sampai saya menjadikan akal sebagai pembimbing diri ini, kemudian dengan akal itu saya mencari nilai-nilai religius sebagai patokan untuk memperbaiki batin dan lahiriah saya. Lalu, saya akan membaiatnya agar ia mau memperbaiki hidup saya hari ini atau kelak.

Jika saya tidak berpikiran seperti itu, pastilah saya akan celaka.

Jika saya menghindari kesibukan mengurus manusia, maka saya akan terhenti mendapatkan keselamatan. Sebab Rasulullah SAW telah bersabda kepada seluruh umatnya: “Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan kalian semua dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinan itu.”

Rasulullah SAW menyematkan status pemimpin di pundak setiap orang: pemimpin bagi diri sendiri. Dan status itu mesti dipertanggungjawabkan kepada Tuhan, baik di dunia spiritual maupun dunia material. Jika kehidupan berada dalam jalur ini, dan kita konsisten memenuhi semua kewajiban, lantas untuk apa kita mengabaikan jalan keselamatan, untuk apa kita turun ke derajat yang paling rendah? Ini bukanlah pilihan hidup orang yang mengaku dirinya berakal. Orang berakal mustahil menghindari hal-hal rasional.

Jika dalam kitab ini, atau kitab-kitab lainnya, saya membicarakan satu peristiwa yang terjadi di jagad raya, maka tujuan saya yang sebenarnya adalah memberi penegasan bagi pembaca, lalu saya akan memperbandingkannya dengan hal-hal serupa yang terdapat di dalam diri manusia. Untuk itulah, mari kita kerahkan perhatian kepada diri kita sendiri, karena yang demikian ini adalah jalan keselamatan bagi kita. Saya akan membahas secara detail tentang manusia, baik dari aspek fisik maupun jiwanya.

Wahai saudaraku, awas! Jangan sampai engkau berprasangka bahwa tujuan saya di dalam semua karya-karya saya adalah membicarakan hal-hal lain yang tak ada dalam diri saya sendiri. Perhatikanlah lebih dulu jalan keselamatan yang saya pilih!

Aku tak peduli pada urusan orang yang beruntung atau celaka, jika diri ini mampu menolong diri sendiri untuk mendapat keselamatan.

Perhatikanlah kerajaan kecilmu itu!

Engkau akan menemukan kerajaan yang dimiliki setiap orang, Lalu takarlah dengan syariat agama, engkau berkesempatan setiap waktu.

Berjalanlah di belakang langkah syariat.

Jangan engkau memberontak, itu berarti engkau menghancurkan kerajaanmu sendiri.

Tetapi, jadilah seorang raja.

Wahai engkau, renungkanlah isi kitab ini. Saya telah bicara tentang kehidupan dunia, saya menganggapnya sebagai “kulit luar”, dan saya menganggap hal-hal dalam diri manusia yang menyerupai makrokosmos sebagai “isi”, dengan alasan seperti yang telah dipaparkan di muka, yaitu memudahkan pembaca untuk memahaminya. Cara yang saya tempuh adalah mengkomparasikan misteri manusia itu dengan hal-hal yang bisa diketahui dan bisa dipikirkan.

Andaikan pembaca mampu memahami maksud saya tanpa harus saya lakukan komparasi semacam itu, niscaya saya tidak akan melakukannya, sekejap pun saya tidak akan membahas tentang makna. Saya melakukan perbandingan (komparasi) tersebut hanya untuk memberi kemudahan sekaligus sebagai upaya memberi pelajaran. Jika Allah berkenan, dalam kitab ini, saya akan menyuguhkan mutiara niat dan permata ilmu pengetahuan. Semua itu adalah amsal-amsal yang Allah perlihatkan kepada orang-orang beriman, yang mengenal diri-Nya, sebagai tali pengikat bagi apa-apa yang liar; sebagai hadiah bagi orang yang berusaha, sebagai pelajaran berharga bagi orang yang berpikir; atau sebagai wujud sifat kelembutan Sang Kekasih.

Sumber : Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

Tulis Komentar